Chapter One

3:13:00 PM


Gue masih inget saat kejadian itu terjadi. Pertama kalinya. Kalo itu berlaku begitupula untuk dia atau enggak, jelasnya itu pertama kalinya untuk gue. Awal April saat kita semua kelas dua SMA, enggak asing lagi sama kejamnya dunia tanggung jawab siswa ataupun tertekan sama menakutkannya ujian yang menentukan dunia baru nanti, kuliah, part-time jobs atau bahkan kerja. Dengan kita, maksud gue adalah kelompok bermain yang kita temukan sejak SMP, beberapa dari kita bahkan dari SD. Kami menyebut diri kami sendiri sebagai kelompok Airecon. Cara nyebutinnya ya kayak air, yang biasa diminum, ditambah econ, kayak nama band tapi urutan hurufnya ditukar -maksud gua once-, Airecon. Mereka yang sok inggris biasanya langsung ngira itu nama berawal dengan cerita yang berhubungan sama pendingin ruangan, tapi enggak “sepenuhnya” benar.

Rivan, Chris, Adit, Mariza dan Marcel berteduh di suatu warkop, entah di daerah mana, saat ulang tahun Nadya, si cewek yang adrenalinnya terkadang mengatasi kemampuan berfikir logikanya. Gue cuma bisa nunggu di mobil van sewaan kita, menggulung diri di selimut, mantengin mereka dari jendela mobil yang berembun. Adit nyeduh gelas kopi susunya yang ketiga, ngobrol asik sama Rivan, yang baru aja diinterupsi sama mba warkop yang ngasih bungkus rokok pesanannya. Dari jumlah kopi yang dia seruput, nampaknya giliran Adit untuk nyetir setelah perhentian ini. Chris baru lepas dari stir, ini alasan dia menyantap mangkok kedua mie ayam bawangnya. Rawitnya dua, sawinya yang banyak. Kita semua hafal kriteria satu mangkok mie untuk Chris. Hidung gue ngeselinnya enggak bisa gue tuturkan dengan kata-kata. Ide siapa bikin road trip di bulan April? Untungnya naik van, bukan sedan mewah yang sempit. VW (Volkswagen) hijau toska dengan plat B 1819 UA kepunyaan temannya omnya Rivan cukup luas untuk tujuh remaja muda. Satu supir dan satu penumpang di depan, tiga di jok tengah, dan dua di kasur belakang. It’s like what I’ve always dreamed of.

Pikiran gue saat itu terlalu disibukkan dengan risih dan kesalnya gue terhadap flu yang memakan gue hidup-hidup, sampe gue sendiri ngga sadar kalo Mariza ngetok jendela mobil macam preman. Di luar masih ngga ada langit biru. Dasar dari perhentian sore ini juga karena hujan deras yang ngga berhenti tumpah di mobil kami. Sederas hidung gue. Sial.

“Kenapa keluar enggak bawa kunci sih?” tenaga terakhir gue terpakai cuma untuk keluar dari selimut gue dan bergerak untuk buka pintu. Serius deh, mereka seharusnya mempertimbangkan kondisi gue saat ini. Mobil klasik dengan pintu geser itu enggak gampang bukanya.

“Yailah buka pintu doang. Payah lo. Dibawain popmie nih.” kata Mariza agak ngegerutu sambil masuk ke mobil dan langsung kasih Marcel payungnya. Ledekannya terlalu jujur dan terkesan acuh. Di sisi lain, dia nyodorin kemasan mangkok dari plastik yang aroma dari isinya, secara menakjubkan, masih bisa gue cium. Terkesan acuh, tapi Mariza emang sesungguhnya perhatian. “Dan tissue tambahan.” celetuk Marcel. Si hygiene-freak. Mukanya datar, dengan kacamatanya yang berembun. Dan seperti biasa, saat dia masuk mobil, dia tirisin air hujan yang di payung itu, sekering mungkin sampe bener-bener layak untuk ditutup. Bodyguardnya si Mariza. Dia yang pegangin popmienya saat Mariza gedor jendela mobil. Dia serius rela ngelakuin apa aja buat ceweknya.

Mariza dan Marcel udah lama pacaran, gue ngga ngerti apa yang bikin mereka selanggeng itu. Di antara sekian banyak fans yang menggila-gila akan Mariza, dia milih cowok super bersih dan rapi dengan tampang biasa aja. Jelas banyak yang mau sama cewek kinclong yang ngga perlu berusaha untuk jadi cantik macam Mariza. Gue ngga mau ngejelekkin Marcel, karena dua-duanya sama beruntung. Dan mereka sangat sangat kontras.

“Makasih cel. Ngga sama parasetamol dan air oksigennya sekalian?”

“I was thinking more like vitamin C tablets. Tapi ngga ada. Lo pikir kita di mana?” jawab Marcel lagi dengan cetus. Gue ngga ngerti masalah dia sama gue apa. Ohya, gue udah bilang belom kalo kemampuan berbahasa Inggrisnya Marcel itu yang terbaik di antara kita semua dan mungkin terbaik di antara satu angkatan atau bahkan satu sekolah. Bisa ngebayangin orang ambon pake aksen British?

Gue mengabaikan pertanyaan retoris Marcel dan menyelimutkan diri lagi. Setelah gue berterima kasih ke Mariza, cuma beberapa menit sampe popmie itu ludes dan langsung gue buang ke tempat sampah di dalam mobil. Suara terakhir yang gue dengar adalah lagi-lagi gerutu Marcel, sesuatu tentang kuahnya, tapi gue ngga denger, karena setelah isi perut gue langsung pasang earphones dan kembali tertidur.

0 comments