Tetapi saya bangga akan darah yang berasal dari tanah air,
darah yang mengalir di tubuh saya,
darah yang selalu mengingatkan
dan menghantui
identitas saya sesungguhnya.
read with an open mind.
Asimilasi. Gue baru denger penjelasan kata itu dari nyokap beberapa hari yang lalu. Gue suka gimana nyokap gue mendidik gue. Mungkin ngga seperti seorang ibu pada umumnya. Kemungkinan besar tidak seperti bagaimana ibu kalian mendidik kalian, karena setiap orang tua bereksperimen dengan buah hatinya berbagai cara.
Definisi kata asimilasi adalah "penyesuaian (peleburan) sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar." Kenapa KBBI harus mengurungkan kata peleburan di situ?
Penyesuaian cenderung terdengar mudah dan positif. Peleburan berarti subjek bersangkutan sepantasnya melewati proses di mana dia harus hancur... demi menjadi yang lebih baik, demi menjadi sesuai dengan lingkungan sekitarnya.
Asimilasi. Bukan hanya orang tua yang berperan, yang memiliki sebuah peran dalam pembentukan karakter, Orang tua, keluarga adalah darah. Ialah identitasmu.
Gue, Esther Jessica, setelah tinggal 2 tahun di Jerman, sudah terasimilasi.
Gue tidak lagi melihat dunia dengan pola pikir orang timur pada umumnya.
Tapi gue ngga pro-kultur barat sepenuhnya.
Tinggal di Eropa: memiliki akses yang lebih leluasa, kenal dengan banyak orang ̣¬banyak anak muda yang pola pikirnya tidak sama dengan apa yang biasanya gue temukan...
Kesempatan - kesempatan ini yang mengasimilasi gue.
Ke depannya, kalau mau mulai percakapan dengan saya..
Berani kah ngomong pintar?
Ngomong sejarah, politik dan masalah dunia?
Dan maukah kau berbagi pengetahuanmu tentang... agamamu sendiri? that's a really dangerous topic. I like it. Gimana rasanya, bertemu orang yang ternyata tahu lebih banyak daripadamu, walaupun dia bukan pemeluk sepertimu?
Alasan kenapa gue jadi vegetarian? atau bahkan mencoba sebisa mungkin untuk jadi vegan?
Ya, saya ngerti, babi itu binatang kotor.
Ya, saya ngerti, liur anjing adalah najis.
Ngertikah kamu, bahwa hewan "ternak" di dunia barat disiksa secara kotor dan najis?
Kemanusiaan itu penuh kemunafikan!
Gue sudah terbiasa menghindari pemakaian plastik.
Kalau "luar negeri" itu keren, mungkinkah karena gaya hidup dan mentalitas mereka yang keren?
Kalau gue sudah terasimilasi dengan gaya hidup dan mentalitas seperti itu, apakah gue membantu membuat negeri tersebut menjadi keren? :)))
"London is cool, but Jakarta can also be cool, if we make it cool." - Jovial da Lopez.
Bingungnya lagi, kultur - gaya hidup dan mentalitas masyarakat Indonesia itu juga oke-oke aja, kok.
Banyak hal yang gue suka, seperti contohnya: cukup terbuka masalah "privasi" (dengan mental beginimah diketawain, seharusnya. Saya diketawain kalau sering foto sana-sini dan mengunduhnya di dunia maya), ikatan erat kekeluargaan, dll. (sebenernya gue ngga kepikiran apa lagi...)
Cuma, kalau itu gue biarkan dan gue paksakan di sini? Hmmm.
Mereka melihat "orang Indonesia itu bagaimana, sih?"
Bukan "orang Jakarta itu bagaimana, sih?"
Ada perbedaan di situ. Dan itu mengecewakan. (Untuk mereka.)
Namun untuk gua, tetap Garuda di dadaku, yoi, berbeda - beda tetapi tetap satu jua.
Intinya, saya tidak berminta maaf, jikalau saya berbeda. Kalo saya di mata kalian sudah menjadi sombong, hmm.. Coba perhatikan lagi, kamu menilainya dengan mentalitas Jakarta, bukan?
Multiculture life is awesome.
Gue, Esther Jessica, setelah tinggal 2 tahun di Jerman, sudah terasimilasi.
Gue tidak lagi melihat dunia dengan pola pikir orang timur pada umumnya.
Tapi gue ngga pro-kultur barat sepenuhnya.
Tinggal di Eropa: memiliki akses yang lebih leluasa, kenal dengan banyak orang ̣¬banyak anak muda yang pola pikirnya tidak sama dengan apa yang biasanya gue temukan...
Kesempatan - kesempatan ini yang mengasimilasi gue.
Ke depannya, kalau mau mulai percakapan dengan saya..
Berani kah ngomong pintar?
Ngomong sejarah, politik dan masalah dunia?
Dan maukah kau berbagi pengetahuanmu tentang... agamamu sendiri? that's a really dangerous topic. I like it. Gimana rasanya, bertemu orang yang ternyata tahu lebih banyak daripadamu, walaupun dia bukan pemeluk sepertimu?
Alasan kenapa gue jadi vegetarian? atau bahkan mencoba sebisa mungkin untuk jadi vegan?
Ya, saya ngerti, babi itu binatang kotor.
Ya, saya ngerti, liur anjing adalah najis.
Ngertikah kamu, bahwa hewan "ternak" di dunia barat disiksa secara kotor dan najis?
Kemanusiaan itu penuh kemunafikan!
Ngga deng, gue menghindari konsum daging (bentuk apapun) karena Julia, teman dekat selama di Weil. Dia vegan. Bukan tipe yang cerewet dan ceramah terus, sih. Tapi aneh aja makan bolognese di samping orang yang bilang bahwa telur ayam itu adalah hasil haid ayam betina!
Nah dari pengurangan konsum daging ituu... Jadi kebiasaan. Dan sekalinya makan daging, bleeeghh!
Kan gue udah bilang, kemanusiaan itu penuh kemunafikan. Gue vegetarian karena role models. Bukan karena gue pecinta binatang. Gue pikir, "kalo mereka (role models: Lilly Singh, NB, JV, JS) bisa sukses dan tidak membunuh hewan, gue juga bisa toh?" Yep, gue munafik.
Gue sudah terbiasa menghindari pemakaian plastik.
Kalau "luar negeri" itu keren, mungkinkah karena gaya hidup dan mentalitas mereka yang keren?
Kalau gue sudah terasimilasi dengan gaya hidup dan mentalitas seperti itu, apakah gue membantu membuat negeri tersebut menjadi keren? :)))
"London is cool, but Jakarta can also be cool, if we make it cool." - Jovial da Lopez.
Bingungnya lagi, kultur - gaya hidup dan mentalitas masyarakat Indonesia itu juga oke-oke aja, kok.
Banyak hal yang gue suka, seperti contohnya: cukup terbuka masalah "privasi" (dengan mental beginimah diketawain, seharusnya. Saya diketawain kalau sering foto sana-sini dan mengunduhnya di dunia maya), ikatan erat kekeluargaan, dll. (sebenernya gue ngga kepikiran apa lagi...)
Cuma, kalau itu gue biarkan dan gue paksakan di sini? Hmmm.
Mereka melihat "orang Indonesia itu bagaimana, sih?"
Bukan "orang Jakarta itu bagaimana, sih?"
Ada perbedaan di situ. Dan itu mengecewakan. (Untuk mereka.)
Namun untuk gua, tetap Garuda di dadaku, yoi, berbeda - beda tetapi tetap satu jua.
Intinya, saya tidak berminta maaf, jikalau saya berbeda. Kalo saya di mata kalian sudah menjadi sombong, hmm.. Coba perhatikan lagi, kamu menilainya dengan mentalitas Jakarta, bukan?
Multiculture life is awesome.
Namun kalian berkembang sebagai bangsa Jakarta,
kita sudah jelas berbeda
kalian, dengan cara berpikir saya,
gaya hidup yang saya jalani,
agama yang saya tekuni...
Kita berbeda.
dan itu indah.
Kalau sudah terbiasa cebok pakai air, mau diapakan?