Halo, kangen banget nulis dan
baca sendiri berulang-ulang. Kemarin liat screenshootan
post terakhir di penyimpanan komputer, udah lama ngga buka komputer
juga. Pekan yang cukup keras bos. Terakhir tuh pas libur pentakosta
kan ya? Duh, indahnya saat itu, belom punya kamar sih, tapi masih ada
internet, dan rumah lumayan sepi. Cerita kali ini, gue cuma punya
waktu 1 jam untuk nulis, karena harus jemput si kecil Antara dari TK,
yang jauh dan nyapeinnya naujubile dari rumah.
Susah
untuk gue bisa ketik cerita dalam satu jam. Biasanya kepake waktu
minimal 75 menit. Secara lisan atau oral, gue gak pernah bisa cerita
dengan bener, tanya adik gue, Kezia. Makanya, kalo gue ngobrol sama
temen cuma bisa cerita hal-hal terikini yang sangat pendek penjelasan
yang detailnya. Makanya juga, gue lebih sering dengar orang lain
cerita ke gue, walaupun orang ngga minta solusi sama gue, tapi gue
suka komentar, maafya. Makanya, gue nulis blog! Betapa indahnya
keberadaan “backspace”
dalam
hidup perbahasaan gue. Terkadang banyak cerita yang gue ngga tau
siapa yang mau denger, (yes i don’t have absent friends in my
life...anymore) jadi gue tulis aja dan entah siapa yang mau baca dan
ngethumbsup, gue tau ada orang di luar sana yang baca. Gak peduli
juga sih, gue pendiem sekarang, yang penting sebenernya punya
something
to express my mind.
Phew,
akhirnya nyampe ke isi dari cerita.
“menetap
ogah, balik keterlaluan” judul dari blogpost belum tertulis yang
tertunda, yang gue kerjakan pertama. Gue nulis ini, siang hari di
suatu rabu yang sampah. Ya, gue b e n c i hari rabu. Pelajarannya
paling banget sampah, harinya cuman AGAK berada di tengah pekan, udah
jauh dari senin, tapi masih jauh dari jumat-sabtu juga, tai ga?
Mungkin sepanjang teks ini isinya cuman ngeluh doang, udah baca
judulnya kan? Harus tau ya, selama pekan setelah libur pentakosta itu
gue 2x kena panicattack
dan gue akhirnya tau, kenapa-bisa, dari-siapa, di-apain, dan
bagaimana itu bisa terjadi. Seluruh jawabannya berhubungan dengan
(pelajaran) Bahasa Jerman dan Ibu W, guru pengganti sekaligus kepala
sekolah gue. UGHHHH gue nulis ini aja udah enek sih sebenernya, kesel
banget sama itu orang dan semua yang berhubungan dengannya, tapi
sekaligus sakit banget dan sedih juga kalo inget dia. Sumpah, gue
kepahitan.
Gak bisa lagi ngejelasin gimana
dan kenapa gue keselnya sama dia, beneran sob, nyelekit banget di
batin. Gue rasa sih semua manusia “sejenis” dia pantas aja
ngelakuin hal-hal tertentu ke orang berlagak gue, tapi gue emosinya
lemah. Jangan gue plis. Salah satu campur tangan besar gue bisa di
sekolahnya ( gue udah tulis mengenai hal itu juga sebelumnya ) adalah
dia sendiri juga kan, tapi sekarang rasanya gue sangat rela untuk
melepaskan diri dan menanggalkan kesempatan yang dia kasih. Bodo
amat. Sumpah, gue kepahitan. Tuhan, ampuniku ampuni dia, kami tidak
tahu apa yang kami lakukan. *nangis*
Hidup punya sirkumstansi banget
ya.
Beritanya adalah jumat lalu gue
bolos sekolah karena gue di Hannover (naik bus 6 jam jauhnya),
long-weekend-an sama nyokap dan Cia atas dasar acara kampus nyokap
dan ulang tahun gue di Berlin. Hari Jumat, hebatnya, ada pelajaran
pemajuan Bahasa Jerman tambahan dari guru lain pulang sekolah, yang
dicetuskan oleh Ibu W. Ya, gue ijin bolos ke wali kelas tapi gue ga
infoin dia, iya, gue salah.
Hari ini, barusan aja ya
beberapa jam yang lalu, dia nyamperin gue (sumpah enek banget, udah
bahagia nyaman tentram gue ngga ngeliat dia lagi sudah selama 6
hari!) dan langsung naikin dagunya, nanya,
“kamu kemana hari jumat?!”
gue seperti biasa dengan
pembelaan diri gue, jawab sebisanya, sesopan dan se-tanpa-temper gue
dengan beliau.
Lalu, dia bete sendiri, sok
ngomelin gue, bilang,
“saya mau punya pertemuan
dengan orang tua kamu”
...t a i.
Saat
itu, masih esther yang dulu, pede dan melanjutkan keslengean nyantai
untuk nge-iya-iya-in ‘guru terhormat’. Sekarang gue pikir-pikir
lagi, holy
shit, i’m fucked.
Taiknya adalah, terakhir kali
gue pelajarannya, beliau minta permohonan nilai yang melayakkan diri
masing-masing di kelas. Dengan alasan, gue nulis malah hal sampah
yang sok kepedean dan gak masuk akal dan bodoh AAAA. Trus yang lain
dibalikkin kertasnya, gue ngga. Ditinggalin di atas meja gue terakhir
lalu pergi, anjir. Balik ke meja gue ngeliat begituan, tanpa gue
liat, langsung sobek aja. Anjir, gue udah malu banget salah nulis,
doi masih taro di atas meja gue, pertanda udah doi baca. Huf.
Mungkin itu ngga akan ilang dari
memorinya seumur hidupnya. Muka gue sudah terletak di bokong gue
sekarang.
“kapan jam kerja papamu?”
“euhm, biasanya siang
sebenernya.”
”oh.. Ohyeaaaasaya juga bisa
pagi ke siang, atau awal sore. Atau ngga kamu hubungi tata usaha dan
sekretaris minta jadwal pertemuan dengan saya.”
“oh. Iya-iya”
“kamu tanya aja dulu papa kamu
bisanya kapan, trus hubungi saya langsung atau Ibu L (sekretaris).”
“iya, saya lakukan.”
“papamu bisa sedikit bahasa
jerman, atau dia berbahasa inggris?”
“dia orang jerman.”
“bagus, saya mau ada
percakapan dengannya dan kamu harus ada di sana, ikut.”
“iya, nanti saya bicarakan
dengannya.”
“iya, kamu harus ikut. Ngerti
semuanya?”
*Iye, bacot.
Saya
sudah muak sekali di sini, mau mulai baru dari awal, dengan anak
sekolah yang bukan cabai pilih-pilih teman dan penuh rasisme.
Guru-guru yang sudah melihat saya mempermalukan diri saya, pada saat
yang sama, guru-guru bangga melihat perkembangan yang saya lakukan,
kesulitan yang saya hadapi, guru-guru yang suportif...gak kuat
ninggalin mereka, influence
besar
yang memperniatkan saya. Takterlupakan guru-guru yang membuat gue
jatuh cinta akan kegokilan danatau kepribadian mereka, literally
jatuh
cinta.
Udah
se-gepok hal yang udah gue korbanin, entah fisikal dengan harga diri
dan penampakkan, psikis dengan otak gue, maupun spiritual. Gak bisa
ngebayangin untuk ngulangin semua sampah itu lagi, dari awal. Suka
kepikiran untuk pulang aja, orang-orang di Kampung Halaman selalu
lebih ramah, lebih nice.
Dan juga takdiperlukan yang namanya kesulitan dalam berbahasa di
percakapan. Namun kembali, mengulang dari awal juga di sana? Tidak
terimakasih. Orang yang terbaik dengan sikap yang mudah menempatkan
nama bersangkutan di hati, kadang banyak dari mereka, semakin
mengenali kembali siapa dirimu sesungguhnya, jadi menggores keras
tempat itu. Gak mau jatoh ke lubang yang sama lagi, usaha dan banyak
berkorban, dan malah dapet sampah lagi. Kesempatan abal-abal terpaksa
yang berat diterima dan juga berat untuk dijalani gak boleh untuk
udah diusahakan dan gak berbuah apa-apa.
Jawaban
dari Erörterung
berjudul “Stay ogah, pulang keterlaluan.” kali ini:
God didn’t bring me this far
to leave me.
mungkin ngga di kampung ini,
Tuhan, saya butuh kesempatan kedua dengan persyaratan tertentu.