Mau cerita lagi, tentang seorang om-om pertama yang deket sama gue, di Jerman.
Sekitar sebelum libur musim gugur gue didaftarin nyokap les bahasa Perancis dari organisasi VHS Jerman (VHS = VolksHochSchule, kalo diterjemahin artinya Sekolah Tinggi Masyarakat). Kenapa? karena salah satu ketentuan "anak gymnasium" itu menguasai dua bahasa asing. cih. Yaaa jadi dulukan masih punya pengharapan besar gue bisa pindah gymnasium gitu.
Oke singkat cerita, gue di daftarin di Lörrach (nama kota yang cukup besar dibanding kota gue, lebih famous juga, city-kind of style), sedangkan adik gue di Weil am Rhein (kota gue, sesusah itu kah kalian menghafalnya?). Karena gamau waktunya samaan dan gtgt deh. (diskon juga euy!)
Kamis 18:00. Hari pertama kelas, seperti yang gue duga, yang dateng pasti orang dewasa semua, by that I meant, umur anak kuliahan sampe pensiunan lah. Guesih yolo aja, emang biasa kan ambil kursus bahasa. Lalu ada seorang chinese girl, tinggi, putih, sipit, rambutnya item lurus, keren. Dia duduk samping gue, karena gue emang sesempatnya nyiapin tempat kosong kan (seakan-akan milih chairmate, ciah). Singkat cerita, kita nuker facebook, namanya Jennifer. Chinese 100%, lahir di Austria, kelas 11 sekolah protestan swasta "FES". Kita selalu duduk sebelahan jadinya, tapi lama kelamaan dia mulai sibuk sama sekolah, (padahal dia ikut kursus karena dia butuh bantuan, buat sekolahnya juga ckck) dan akhirnya ngga lanjut.
Beberapa kursus kemudian hidup gue di kursus ini hampa tanpa chairmate, sedih. Mana saat itu gue bahasa jermannya masih belum lancar, sedangkan kursusnya kan dari bahasa jerman ke bahasa perancis. (yekali b.indo. yekali inggris. ihr Blöden!) Laluuuuu mujizat terjadi deh.dan ini cerita sesungguhnya.
Di kelas ini, gurunya nyebut nama peserta pake struktur formal. Maksudnya, dipanggilnya pake Mr/Ms Namakeluarga. Sedangkan kan gue ngga punya nama keluarga trus jadinya gue minta pengertian ke guru kursusnya untuk ngga manggil gue Frau Christian. ew. dengan bahasa jerman gue yang terbata-bata, gue coba ngomong inggris. Karena sebelumnya juga si ibu guru ini pamer kl dia jg ngajar bahasa inggris. Trus yaudah dia sok-sok ngertiin, yasud gue lanjutin aja kan hidup di kursus itu....tanpa chairmate.
Gue keinget, waktu hari pertama ada om-om yang duduknya di sebrang gue & jennifer. Karena si Madame Heinig (nama gurunya) Itu agak kesusahan pronounce nama si om ini, karena, bukan nama keluarga jerman, padahal dia "white guy". Akhirnya di tanya lah, si om ini gimana nyebut namanya, asalnya dari mana. Namanya Mr. Jennings, beliau berasal dari South Africa, mother language si bapak ini English!
Usual Esther, I just observed that situation. hey, it came in really handy in the future!
Belajar bahasa yang 'kayak cinta: rumit namun lembut nan romantis' pake bahasa yang kaku ribet banyak peraturan dan masih belum gue kuasain total juga...tambah rempong. Gue mulai mendekati si om, karena gue pikir...mungkin cuma dia yang jadi harapan gue untuk bisa nanya sesuatu dlm inggris, kalo gue jermannya ngga ngerti. Dan ternyata, hamdulilahnya, saat gue coba ngereach mister ini dengan bahasa jerman gue yang terbata-bata, dia dengan jermannya yang lancar mulai kasian, mungkin, dan akhirnya open sama gue ngomong inggris:') bahagianyaa..
***** Jackpot adalah saat lo yang usaha reach orang, walaupun agak ragu, tapi orangnya malah sangat positive ngeresponi lo balik. *****
I got an englishspeaking chairmate in Frenchclass that I study through German! Yay!
Mr Jennings sangat open orangnya, dan I know it, NOT in a creepy way. Kita mulai sering ngobrol ngebahas tentang hal non perancis lainnya. Karena jam kursusnya ngga ngasih break juga, hampir ngga mungkin bisa ngobrol santai tanpa harus bisik-bisik sekitar jam 18:00 - 19:30. Si madam guru ini tipe orangnya ngejar mulu, ngga ada 5 menit sedikitpun buat waktu peserta kursus ngomongin yang lain. Berhubung kereta gue nyampe di Lörrachnya jam 17:41, biasanya sebelum mulai kursus udah ngobrol-ngobrol sih, dan kereta balik juga 19:47. Dari antara waktu itu, gue mulai tau kalo dia white guy yang emang proud South African, married with a loving german wife, two beautiful 11 year old twins, and well, a faithful family in God:) A German-English Translator who's close to retirement. Yes, he is way older than me. But hey, orang tua mau open sama remaja? Dimana lagi di dunia ini lo bisa cari macam begitu? Kalo gue nahan 'harga diri' 'kultur timur' gue untuk ngga bergaul sama om-om, emang tante-tante yang di kursus ini sifatnya gimana?:) Leh, cewe Jerman.
Ngobrolnya cuman setiap kamis kok, no number swapping, uhm its over the line awkward anyway. Until one day......
Satu kursus terakhir sebelum libur semesteran, dia nawarin gue a job, babysitting. Ceritanya gini,
It was just a very normal course day, gue dateng lebih awal, dan doi emang SELALU lebih awal lagi drpd gue, dan saat gue duduk sebelah doi, catch my breath, dan seperti biasa, smalltalk tradisi negara sini: "So, how was your day?!" trus seperti biasa (dulu ya) gue cuma jawab "ya, nothing special, school as always, its getting better in the normal class. and u?". then he says something about his life ( i forgot ), then "actually I wanted to ask if you're interested on doing some babysitting, I mean, just knowing there's someone to watch my kids when I'm going to be home late makes me feel better." he offered, i reacted shockedly, and explained.
It was my first ever job offer! Right at that moment, saat gue total mess ngos-ngosan abis dari kereta dan terbeban sama bahasa perancis dan guru ngeseyin. Di suatu kamis sore biasa, sebelum jam 18:00, some englishspeaking white guy offered me a job. It was a moment for me there. :p
Guesih ya mau-mau aja lah! Tapi trying to be professional, after I "teenagely" reacted, gue bilang "I personally am very interested! But I'll just have to tell my mom first. I'm pretty sure she's okay with it though." dan dia cuma jawab sangat enteng dan biasa banget, ngasih gue a sheet of paper dengan emailnya, dan ngejelasin singkat jelas padat nanti jalannya gimana. Joyful bangetsi!! Lagi sibuk sama sekolah juga, dan nyokap masih di asrama kampusnya juga, gue mau jelasin lisan- dan beberapa hari kemudian gue email om Ian_Jennings. lol. Lucu banget, sejak itu gue jadi suka nulis email lagi.
Singkat cerita, the day has come, 16th of February 2015!
Sesuai pembicaraan lewat email, gue dijemput jam 17:45 di depan rumah, trus kita cau deh ke rumah doi. Gue kira kan gue akhirnya bakal nemu istrinya yak, eh ternyata emang ngga. Yaudah gue bingung tapi stay cool aja. Masih positive kok, emang ngga mau aneh-aneh orangnya keliatannya. Dan selama diperjalanan mobil, doi bahkan ceritain kalo doi itu mau ngedate sama istrinya berhubung valentine. OMG HOW CUTE. Sampe di sana dia cuma ngenalin gue sama anak-anaknya, nawarin hal-hal, dan buru-buru dress up buat datenya, and he left.
There I was... di Lörrach-Hauingen, bersama 2 anak kembar cewe-cowo, 11 tahun, kelas 6 Gymnasium, blasteran SouthAfrican-German yang lahir di Berlin!
Simon & Elizabeth (Lizzie) are the cutest. They're such angels, seriously.
Sebelumnya juga dibilang, "you really don't have to worry anything about them, you can just play with them, or even when they don't want to, they'll be busy with their iPads and gadgets. so you can just chill and stuff." dan gue ya...HAHAHA INI JOB?
Sebagai perkenalan gue main Monopoly sama mereka, trus Simon kata bokapnya 'takut sama cewe', trus gue jadi lebih sering sama Lizzie juga.
Gue udah bilang belum, MEREKA ENGLISHNYA PERFECT BANGET FESESSSSSS AAAAA. That accent, definately NOT a 'german-english' accent, but also not a SouthAfrican like their dad, bahkan I would say kind of a mix of British&american english, where the british is dominant.<3
Yaudah gitu aja sih, I was there, playing boardgames, chatted with them, watch a little bit of cartoonnetwork & disney (in german, wtf), and I saw them play piano (11 yearold piano players i tell ya), then Lizzie taught me a little bit of piano, and well...pretty much it!
Simon tertutup banget, boyish sekali, tapi sama sekali ngga bandel, gentleman bahkan, tapi malu-malu aja, dingin. Dia ke kamarnya deluan setelah kita nonton TV, main iPad, dan setelah gue sama Lizzie selesai di bawah, kita ke atas, Lizzie ke kamar mandi dan nyiapin dirinya sendiri, dan gue menemui Simon udah di kasur dengan Pijamanya, Lizzie juga balik dari kamar mandi, udah sikat gigi.. yaelah mandiri amat sempurna deh. BAIK BANGEEEEET. Gue ajakin selfie dulu, trus akhirnya mereka bobo, sekitar 21:30 di kamar mereka, yang bunk-beds gitu.
Gue main hp ajadeh, ada wifi. Surga dunia banget deh bisa ngelakuin gini dapet duit. Berhubung gue di kamar main mereka, beres-beres dikit la.
Dan lalu akhirnya (lol) orangtuanya balik sekitar jam 11, dan gue ketemu the lucky mistress! BAIK BANGET JUGA OMG. cewe jerman terlangka.
Si om nganterin gue pulang jam itu, nggada kereta lagi, dan emang perjanjianya begindang. Yaudah I was just glad and didn't feel so tired. On the car trip home, pas udah nyampe depan rumah, gue dikasih bayarannya, yang sangat lebih dari perjanjian. Sangaaat bersyukur! With positive vibed bubbles around my body, I went inside home.
and then I realized
hp gue ketinggalan di mobilnya.
besoknya dianterin pas gue lagi sekolah. (anjir serius baik banget)
Lalu kita bertemu lagi di kursus bahasa perancis. Friendshipnya makin santai sih, walaupun agak awkward terkadang, karena emang udah ketemu keluarga satu sama lain lolololol.
Anyway, he's a good man. Gue cuma manggil dia 'Sir' doang. karena bingung mau pake bentuk formal atau nonformal..takut awkward, ya sabodo teuing.
I got a job, just like that. And I "earned" my first money, just like that. I didn't deserve it, instead of using it for my own, so I gave it back to The One who gave it to me. :)
Demikian cerita saya tentang Monseur Traducteur, yang berarti "Bapak Penerjemah" atau "Mr. Translator", yang saya kenal begitu saja, menyadari bahwa friendship tidak mandang umur. Barusan di-email pdf scan-an bahan Vocab-test besok, karena buku Vocab gue ilang. How nice? I'll see him soon, tomorrow, then. Haha good man.
The end.






