Still chapter one

3:04:00 PM


”Selamat pagi vane.”

Angin dingin yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil, suara gedebuk pintu mobil yang dibanting tutup, kuap, rintihan morning streches dan hasrat untuk berada di atas WC membangunkan gue dari tidur yang entah udah berapa lama. Awalnya gue butuh beberapa saat sampe sadar kalo ada yang nyapa, setelah itu gue juga sadar bahwa mobilnya kosong. Kecuali gue dan satu cowok di tempat supir.

“Bonjour monsieur,” gue sapa balik dengan suara yang cukup memastikan bahwa gue terbangun. Cuma ada satu orang yang bersedia nungguin gue saat yang lain sibuk, saat gue dipastikan tertinggal sendiri. Dengan kondisi setengah sadarpun gue bisa mengenali suara itu.

“Yang lainnya di luar, mataharinya baru aja naik, mau ikut keluar atau tunggu di mobil aja?” tanyanya. “Kita ngelewatin rest area beberapa saat yang lalu tapi anak-anak mau cari tempat agak sepi dengan view mantep buat nyaksiin ini. Liat aja cahaya dari jendelanya, vane.”

Dan saat detik itu gue terbangun dengan pemandangan yang mewarnai iris mata gue. Cahaya itu enggak seperti apa yang pernah gue liat sebelumnya. Gradasi warna yang lembut menyentuh satu sama lain, permainan molekul-molekul yang gemilang dan satu sumber cahaya besar yang bersinar. Matahari terbit pagi ini membangunkan gue mulai dari diri jasmani sendiri, adrenalin dan bahkan alam bawah sadar gue, yang tadinya asik mimpi di dunianya sendiri. Tanpa gue sadari juga, cahaya itu bukan cuma mewarnai mata gue, tapi juga mata satu-satunya cowok yang bersama gue di mobil saat itu, yang sekarang ada di sebelah gue dan sama-sama kehilangan kata-kata nonton keagungan Tuhan yang dicurahkan lewat lukisan langit di depan mata kita.

Gue beruntung bisa kenal sama Rivan. Kira-kira 30cm jarak di antara posisi duduk sila gue dan dengan badan dia yang nyender ke jok mobil depan gue. Alam bawah sadar gue kembali ngetok suatu pintu di otak gue. Fokus gue akan warna-warna yang terlukis di mata Rivan langsung buyar.

“Van.”

Dia dengar, dia senyum, tapi dia membutuhkan beberapa detik untuk nengok ke gue dan menjawab.


“Vane.”


“Mau pipis...” jawab gue, merusak momen. Sorry, but, gue juga kebangun karena keringet doang ngga cukup untuk mengeluarkan toxin pop-mie yang ada di tubuh gue.

0 comments