friendshit, identitiy, and/or seperation
5:38:00 AMberawal dari denger nama satu sama lain
sebuah "hai" bukan berarti apa-apa sampai bisa ketawa bareng
dari bahan obrolan cuma tentang ulangtahunnya kapan,
cerita latar belakang keluarga,
kebohongan yang dianggap fantasi muda,
dan kejar-kejaran tanpa alasan.
sepantasnya sebuah kehidupan penuh hal baru
sekolah, setiap hari dengan bekal baru
yang membebani, namun selalu untuk sesuatu yang bertuju
rasanya berharga asal bertemu
ngga,
ngga mau jadi sok puitis
namanya juga hidup, perubahan itu memang suatu tuntutan.
kedewasaan adalah pilihan
sayangnya, saat ngga mau dianggap remeh sama "orang dewasa",
akhirnya kita cari bareng-bareng "jati diri selayaknya manusia" itu gimana
"all the places we used to hang out getting wasted"
takdisangka bahwa "getting wasted" sebagai anak baik ternyata bermakna,
ditemani pubertas, mencari jati diri bareng-bareng seru juga
rasanya digampar, lagi asik-asik berselancar dan ombaknya abis.
pemisahan,pemisahan,
asal masih tau dimana batang hidungnya,
asal masih bisa bertanya langsung
gaada kekhawatiran, pemisahan tapi dengan kebersamaan.
trust
is a powerful verb
and faith
is a powerful noun
but what about love?
how can you continue a friendship without love?
at least, care..? nope, a man shall not be able to.
kebahagiaannya masih di sana
walaupun dengan pemisahan, masing-masing harus beradaptasi.
fights, oh i remember the arguments
hidup penuh kontradiksi ya, kawan
se`rieux/eusse
[saya bosan nulis. idenya hilang]
nothing lasts forever,
kata orang banyak.
saat ditinggal, baru sebentar, ngedumel "sudah terlalu lama sendiri"
dengan jati diri yang ditemukan, mulai mencoba menghidupinya dengan "benar" dan sebaik mungkin.
arah percakapannya mengarah ke orang lain,
hubungannya dengan orang lain,
aktivitas barunya dengan orang lain,
apa yang terjadi dengan "abis ini kita..."?
lalu bahan obrolan berubah drastis,
tragically, its on the peak, when all you can say is "remember when..."
penerbangan 11 jam merubah semuanya ya
saat ekspektasi besar mengirakan adanya persamaan
again, trust.
saat pemisahan yang sangat maksimal menghampiri,
'everything's gonna be alright'
'i trust you too much, for me too even think of leaving'
sudah tidak bisa melihat batang hidung
bersyukur akan internet yang membantu,
menjadi alat mata-mata
sedih,
ternyata emang beda dan harus diterima
time and place?
we don't have the place,
but does either one of us have time?
PSSSST...sssh...!
maaf ya, gue lagi sibuk beradaptasi.
ups.
kalau boleh mengutip (terjemahan) pantun dari pengarang asal Jerman, bpk.Hermann Hesse
------

0 comments