L'école. School. Die Schule. школа. Sekolah.

11:42:00 AM

Update time! Post ini didedikasikan untuk... Siapapun jua. Nevertheless, kalau bukan karena seseorang yang tiba-tiba ngechat gue lewat Instagram karena Story gue, post ini ngga akan pernah naik. Cheers to you, jan!

SO here's where we start:


Cuma bisa tepok jidat sendiri saat baca ulang post itu. Tapi gue juga akan nepok pundak Esther yang berumur 15 tahun saat itu... niat banget sih.
Berjalannya waktu, gue juga belajar banyak tentang sistem pendidikan Jerman. Tadinya gue mau pindah ke sini langsung dapet sekolah, ketemu temen, hang out sama mereka-mereka aja, lulus, tschüß. Nampaknya hidup memberi gua kesempatan untuk bersekolah dengan lebih banyak petualangan dari ekspektasi.

Where are you now? What do you do? What experiences have you gathered? What have you learned? What have you forgotten or given up? How much of a westernised person or how much of a German person have you become? 

Makasih, loh. Semua pertanyaan itu sudah dilemparkan ke gue. Dan gue akan mencoba menjawab semuanya satu per satu di sini, walaupun fokus post ini adalah untuk menjelaskan German High School system lebih lagi.

Untuk kalian yang tidak (belum) (mau) membaca School FAQ yang gue tulis saat baru tujuh bulan meninjakkan kaki di tanah orang ini... Gue jelasin lagi sebisanya gue menyingkatnya:

SD Grundschule mulai dari kelas satu sampai kelas lima. Di sini belajar banyak. Tapi tbh, hanya basic stuff. Menurut gue kita di SD belajar banyak banget apa lagi tentang sejarah Indonesia dan IPA dasar. --SD selesai dengan rapot nilai. Ngga ada sertifikat ujian akhir yang harus difotokopi-, legalisir- dan bawa-bawa untuk daftar ajang pendidikan berikutnya. Cukup satu rapot nilai selama (seenggaknya) lima tahun.

Setelah SD ada tiga pilihan
Gymnasium, Realschule atau Hauptschule. Banyak nama-nama lainnya untuk RS dan HS. Tapi keduanya adalah yang paling umum.

Gymnasium is what the British call "Grammar School". Ini adalah secondary school yang mulai di kelas enam dan berakhir di kelas 12. Cenderung lebih akademis (lebih ke teori dari pada praktik) dan tidak "berwarna". Kayak... cuma yang priveleged bisa ke sekolah itu. Bentuk pendidikan terbaik untuk remaja (di) Jerman. Ada ujian Abschluss di kelas sepuluh. Ditutup dengan sertifikat Abitur (Britsh English: GCE A levels). 

Realschule dari kelas enam sampai sepuluh. Cenderung lebih spesifik tergantung dari jenis sekolah. Banyak yang lebih fokus ke sains, ada yg lebih fokus ke sastra atau musik, dlsb. Yang jelas pasti lebih praktik, Kendati demikian, lebih mudah dari pada Gymnasium. This is what the British call "comprehensive (secondary) school". Ditutup dengan ujian Abschlussprüfung.

Hauptschule dari kelas enam sampai sembilan. Lebih mudah dari pada Realschule. Ditutup dengan (Hauptschul-)Abschlussprüfung.

Gue sudah pernah cobain ketiga-tiganya. Tapi paling lama di Realschule dan sukses menutup secondary education dengan puji Tuhan nilai Abschlussprüfung yang memuaskan. :)

Jadi intinya, untuk yang penasaran gimana gue melanjutkan sekolah di Jerman setelah cuma lulus SMP 99 dengan nem (tanpa KJ)  33,35... Jawabannya adalah mereka cuma tanya umur gue, trus gue ikut kelas 10 di Hauptschule untuk satu semester, turun ke kelas 9 di Realschule untuk semester kedua, lanjut dua semester kelas 10 di Realschule, ujian kelulusan (lagi), lulus (lagi, dua tahun berturut-turut), dan sekarang menjalankan semester dua di kelas 11 Berufliches Gymnasium.

Jangan heran kalau gue baru "SMA"! Wong di sini SDnya sampek kelas 5 dan "SMP"nya yg sampe kelas 10!

Mirip seperti di UK, setelah secondary education, ada banyak pilihan sekolah dan pekerjaan untuk diambil para remaja lulusan GCSE.  

Karena perguruan tinggi adalah suatu hal yang sangat akademis, wajar untuk universitas menuntut ijazah A-levels atau yang Jerman sebut Abitur. Kalau ngga sekolah di Gymnasium melainkan cuma di RS atau HS, jelas akan sulit untuk dapetin Abiturnya. Karena di Gymnasium tinggal lanjut aja kan satu sekolah dari kelas enam sampai kelas 12. Seperti gue bilang sebelumnya, emang ditujukan untuk orang yg lebih akademis.

Alternatifnya, ada yg disebut Berufliches Gymnasium (BGy). Kalau diterjemahkan artinya Gymnasium pekerjaan. This is what the British call Sixth Forms. Semacam High School tapi sudah dispesifikasikan jurusannya. Contoh, ada Berufliches Gymnasium für Biotechnologie/Agrarkultur/Informatik/Wirtschaft.
Sekolah ini tiga tahun, karena kelas sebelasnya ditujukan untuk menyetarakan dengan level kelas 10 di Gymnasium biasa. Hal ini juga dikarenakan setiap Realschule punya jurusan beda-beda walaupun kurikulumnya sama. Jadi harus diujicoba lagi anak-anaknya, apakah mereka pantas untuk mencalonkan diri sebagai Abiturient (peserta ujian Abitur) atau tidak.
Kelas 12 dan 13nya terstruktur sama dengan kelas 11 dan 12 di Gymnasium biasa. Sistem penilaiannya (grading), pilihan kelas A dan B levelsnya, tutoring, kehadiran, dsb. Terlalu detail.
Abiturnya di kelas 13 dan cara kerja ujiannya gini: ada tiga courses yg B levels wajib (yang pastinya Bahasa Jerman, Matematika dan Bahasa Inggris) dan dua A levels peminatan yang akan diuji. Total ada lima mata pelajaran yang wajib diikuti. Sisanya jam kosong yang bisa dipilih bebas mau course apa. Semua course sisanya adalah B levels. Contohnya sejarah, atletik, renang,  bahasa Perancis, bahasa Spanyol, bahasa Rusia, geografi, dll. Ini gak masuk di ijazah Abi, tapi di rapot sekolah biasa tetap ternilai.

Jadi, saat gue lulus "SMA" di tahun 2019 nanti (amin, mark my words), gue akan dapet ijazah Abitur dengan A levels untuk VBWL (Volks- und Betriebswirtschaftslehre) atau yang dibahasa-Indonesiakan "Ekonomi, bisnis administrasi dan manajemen" dan English.

"Viele Wege führen zum Ziel.", so said the Germans. It means lots of ways lead to the goal.

Selain BGy, banyak juga sekolah lain yang menawarkan ijazah selain Abitur. Contohnya, di England juga ada kan yang namanya vocational school, which is here called Berufschule. Atau kayak Natascha, cewe belasteran BadenWürttemberg-Semarang yang dulu lulus bareng gua di Realschule, dia sekarang di sekolah yang nama jenisnya Berufskolleg. Trus juga di gedung sekolah gue, bukan cuma ada BGy doang melainkan juga ada Fachoberschule (FOH). Gak semua bisa dibandingin sama sekolah-sekolah FE (Further Education) di Britain. Tapi kurang lebih begitu, banyak pilihannya..jadi mirip.

Gue belum cukup menginformasikan diri tentang sekolah yg lain itu, karena gue udah tau tujuan gue adalah Abitur. If not THE best high school certificate this country has to offer. Jadi, walaupun gue jebolan Realschule... BGy emang jenis sekolah di mana gue akan melamarkan diri. Puji Tuhan dari dua lamaran, keterimanya satu, yaitu untuk bisnis. Dan ikut program tambahan EBBD (European Business Baccalaureate Diploma) juga, jadi beberapa kelas itu bilingual dll.

Conclusion:
Kalau gue ditanya lagi "sekolahnya gimana, ther?" gue bisa jawab: sangat-sangat menarik, melelahkan dan sulit karena kurikulumnya suka berat gajelas, tapi engga sesulit kalian di Jakarta yang sampe harus ikut kursus karena SDM di sekolah kalian sangat payah.

Guru di sini bikin bahan ajar sangat menarik, kita bahkan punya hubungan profesional dan baik dengan guru. Yang bikin gue bersyukur dan bahkan senang di sini bukan cuma karena pihak pengajarnya yang semangat, tapi mentalitas teman-teman di sini yang emang ngga suka nyontek dan karena itu sangat sedia belajar untuk sesungguhnya mengerti materi ajar. I love that mentality. Ngga ada gila hormat dan nilai sikap. Karena kalau siswa kurang ajar, mereka tau diri. Di suruh keluar, yasudah. Banting aja pintunya. Gimana rasanya diusir? Berikutnya, mereka cuma buktiin lewat nilai bahwa guru itu salah untuk main ngusir mereka. Itu kayaknya conclusionnya: setiap orang mencoba sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa mereka benar. Sosok guru di sini bukan orang patriotis ataupun pahlawan bangsa. Mereka hanya orang-orang lulusan suatu perguruan tinggi yang mengerjakan pekerjaan mereka. Kalau anak-anaknya pintar, mereka dapat bonus atau mereka bisa kerja lebih lama. Kalau anak-anaknya bandel dan tidak maju, mereka akan tetap dibayar selayaknya.

So, it doesn't matter, if you can't behave in class or not. Intinya lo tau, bahwa lu yang butuh mereka. Pendidikan lu gratis, jadi ya lu exploit, lah. :) That kind of mentality yang bikin pendidikan di sini maju, amongst other things.

Dan gue bersyukur diajarin rumus-rumus yang super gampang aplikasinya dibanding dengan apa yang ada di kurikulum Indonesia bertahun-tahun. Bisa ngebayangin ngga kalian belajar fisika dan matematika pake bahasa Jerman?  

Ribet ya sistem pendidikannya? Kayaknya sih bisa dijelasin dengan sedikit kata-katanya. Keluarnya begini, tapi. Gimana dong? Semoga bisa menjadi informasi berguna untuk hidup lo kedepannya, sih. Siapa tau lo di beberapa tahun ke depan ketemu orang yang demen ngobrol tentang pendidikan, lo bisa jadi orang pinter gitu, kasih impression, bahwa lo tau tentang sistem pendidikan negara maju di luar Asia Tenggara. Ya gak? Or not. Doesn't matter. Nothing ever matters. ^^


(just kidding, ijazah Abi gua matters, jir.)
(engga kayak ijazah SMP 99 gua... that doesn't matter... masih belum gue ambil sampai detik ini...)

0 comments