Jakarta: before life began

10:06:00 AM


Ku sayang kamu, kota kelahiran.

Pada suatu hari Senin, sekitar pukul 14.00 tahun 1999 di Bidan Ester Sitepu, Jakarta Timur, lahir dengan sehat sebuah bayi perempuan yang diberi nama Esther Jessica Christian. Menurut pihak ibu dan orang tua ibu, nama pertama tersebut diambil dengan spontan dari nama bidannya, dalam rangka belum dipersiapkan. Lalu pihak ayah menambahkan Jessica dengan maksud Jessi dari JC dalam pengucapan bahasa inggris, dan merupakan singkatan dari Jesus Christ. Dan Christian, menurut pihak ibu, nama belakang (nama keluarga) tersebut menetapkan bahwa sang bayi terlahir dengan agama bersangkutan.


Hai, barusan adalah intro gimana gue tiba di dunia ini dan lebih tepatnya lagi, Sang Pencipta memilih untuk gue dilahirkan di ibukota tanah air, Jakarta, Indonesia. Sejak bayi gue tinggal di suatu Kavling di daerah Pulogadung, Jakarta Timur, yaitu tempat tinggal nyokap dengan orangtuanya, yang gue panggil Opung (nyokap suku adat Batak dari kedua orangtuanya, lahir di Medan, bahkan.) dan dibesarkan di situ bersama nyokap, bokap, kakek, nenek, dan main sama kakak sepupu gue, yang gue panggil Kakak Iyut.


Lalu dengan cerita yang asing juga buat gue, katanya sih keluarga kecil gue sempat urbanisasi ke suatu desa di daerah Jawa Barat. Tapi gue gak nyatakan itu ke orang-orang. Karena gue merasa hanya keluarga dan kerabat lainnya gue kenal cuma di Jakarta. Dari TK sampai SD, gue tinggal di Jl. Kayumas. Bokap masih tinggal bareng di Rumah Opung sampai gue mulai masuk SD, nyokap sibuk kerja tapi mereka berdua tetep ada di sana untuk gue dan adik gue, Kezia. Singkat cerita, gue 6/7 tahun dan mereka pisah. Sisa gue, Kezia, nyokap, Kakak Iyut, kedua Opung, dan kedua Tulang (sebutan Batak untuk adik laki-laki dari ibu, bhs. indonya Paman) yang saat itu masih kuliah. And we were good. :)

Nyokap yang banting tulang untuk ambil bagian yang cukup besar menghidupi isi rumah, sibuk kerja, lulus D4 (nyokap angkatan terakhir yang tingkat tingginya D4 bukan sarjana) LSPR dengan anak dua, yang kerja jadi project controller di perusahaan sana-sini. Tentunya, dia ngga meninggalkan kehidupan sosialnya juga. Secara garis besar, nyokap ketemu seorang mate berkewarganegaraan Aussie bernama Ash, dan demi menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan gue dan adik pada masa pertumbuhan kami, bersama-sama kami pindah ke daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.


Kelapa Gading adalah tempat yang luar biasa keren, pada jaman dahulu. Mall, ruko, taman, dan tempat-tempat aktivitas lainnya yang ngga berhenti meningkat jumlahnya. Tapi tinggal di sana menjadi saksi bisu gimana gue menjadi ansosnya. Gue meninggalkan kesempatan untuk bergaul bersama teman-teman SD pada saat itu. Walaupun gue bukan anak warnet dan tinggal di daerah perumahan tentram bersama Opung yang overprotective..ngga otoriter, cuma sangat menjaga perempuan. Berat untuk melenyapkan kesempatan main ke rumah sahabat gue sejak SD saat itu, yang sekarang menjadi soulmate gue, Vineta MPD. Tapi ngga gue sesali sepenuhnya. Gue mulai punya akses ke internet dan dapat kesempatan nonton TV kabel, saat temen-temen yang lain engga. Nyokap lanjut dengan komunitas internasionalnya, kami nampung bule-bule. Dan tinggal di Kelapa Gading bersama nyokap ngenalin gue juga ke teman-temannya, Om-Tante yang ngga kalah kerennya dengan nyokap. Gue udah mulai keluar menikmati malam Jakarta, entah di kotamadya mana, sejak kecil. Terkadang, kenal sama orang dewasa sejak kecil, bergaul sama mereka, bisa buat lo ngukur seberapa jauh lo memperbaiki diri lo saat lo udah gede di depan. Dibanding bergaul sama yang seumuran terus, yang sama-sama ngga ngerti apa-apa dan malah nyoba-nyoba hal konyol. Jakarta, my hometown, introduced me to the world of English speaking people, such as our guests that time and how I got strongly connected with kids abroad on the internet that time.

Hal lain juga terjadi dengan masa Kelapa gading. Banyak yang masih gue inget. Berpuluhan cuplikan flashback ada di kepala gue saat ini. Itu semua masa lalu yang bikin gue banyak belajar. Gue ngga menyesalinya. Namun tetep aja, gue dapat waktu gue saat gue udah selayaknya mulai menghidupi aspek sosial gue.

Selama kelas 6, kurang lebih sebelum Ujian Nasional kami kembali tinggal di Rumah Opung. Gue mulai sosial lagi, ngga diem di rumah doang, dan ikut les sana-sini, dengan bantuan Vineta juga, gue mulai belajar caranya "hidup", yang dikenal orang, bukannya gue hidup sendiri... gah, memalukan sebenarnya haha jaman-jaman hampir remaja dan mendekati pubertas.

Lalu SMP mulai, dan gue lebih dari beruntung untuk bisa berada di suatu sekolah yang ternama dan berkualitas. Memperkenalkan gue juga kepada orang-orang luar biasa. Bisa berkepanjangan lebar cerita sejarahnya gue memutar balikkan dunia gue dari merusak mata seharian depan TV dan internet ke makan indomie malem-malem sama orang-orang yang sama sekali ngga ada hubungan darah sama gue, yang gue kenal belum lebih dari setahun. Cerita SMP luar biasa banyak. Mulai dari 6.35am dan berakhir juga dengan 6.35pm, di satu gedung kesayangan, bersama orang-orang kesayangan. Berikut hal-hal kecil yang membuat masa itu indah, bahkan terindah dalam hidup gue:

- peraturan sekolah yang s e l a l u dianggep enteng, alhasil bisa berkomunikasi indah bersama guru-guru >:)
- jam istirahat sekolah yang terasa berakhir terlalu cepat.
- jalan ke kantin, ngantri makanan di kantin, makan di kantin, ketemu temen dari kelas lain di kantin, tag-tagan makanan kantin, ngutang sama orang kantin. Hihihi
- tempat tongkrongan tersendiri di sudut tertentu sekolah. “Pohon Mangga, Kantin, Koridor Media Center, Mimbar, Tangga Lapangan, Perpustakaan, Studio Band, pojok belakang kelas x.”
- SEMUA JAM PELAJARAN KOSONG YANG BISA DIISI AKTIVITAS NGGA NGEBOSENIN: jamming session gitaran, nyanyi-nyanyi, bikin Casino sendiri, nonton film, KUDA TOMPROK!
- jalan-jalan keliling kelas-kelas cuma buat gangguin temen lain, dadah-dadahan.
- disuruh guru belanja dan dikasih tip.
- nyariin temen angkutan umum untuk pulang
- nentuin mau main ke rumah siapa setelah pulang
- order delivery ke sekolah sebelum ke tempat les bareng-bareng.
- nontonin ekskul
- makan mie setelah sore pulang sekolah:’)
- berteduh di tempat-tempat kecil di sekolah saat hujan
- ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian sekolah, uji coba ujian nasional... Ini semua asik. Bukan pelajaran yang diujinya, tapi dateng ke sekolah siangnya, kartu legitimasinya, pengawas-pengawasnya, seatmatenya.. Hihi
- dan flashback-flashback lainnya yang di kepala gue saat ini.

Mobilitas Jakarta menawarkan banyak hal yang asik untuk dinikmati entah sendiri atau bersama orang-orang luar biasa. Gue baru ngerti sebetapa kerasnya Jakarta saat gue baru merasa hidup di Jakarta itu sendiri, bukan cuma satu daerah perumahan di Kelapa Gading atau “Rawamangun”. Jaman gue lahir, udah ngga ada mobil lagi tersedia buat keluarga. Alhasil, gue mempercayakan diri gue sama yang namanya Ojek, banyak kenalan abang Ojek sana-sini. Sebagian besar justru cuma mereka yang punya motor dan lagi nganggur sama kerjaan lainnya, dan berakhir nganterin gue ke suatu tempat dan dikenakan tarif. Gue ngga tau macam begini tuh bisa dikategoriin ke prostitusi apa engga..hihi. Ohya, terus bukan cuma ojek, tapi bajaj juga. Belajar yang namanya nawar bajaj dari Opung, mulai sadar gimana rumus tarif bajaj yang kalo dihitung sebenernya “makin deket makin mahal” sejak harus berbajaj sendiri. Angkot atau Mikrolet atau KWK yang rutenya gak pernah tersedia secara tertulis, yang datengnya ngga tentu, yang harga tarifnya tergantung rame-sepi dan mood supir, dan betapa menyeramkannya nunggu angkot di pinggir jalan disiulsiulin sama supir angkot yang maksa untuk kita tumpangin, dan nunduk masuk angkot ituloh...bikin osteoporosis. Memori masa kecil terkeren dari bokap adalah saat beliau sentil atap angkot dan bilang “kiri bang” merupakan aba-aba untuk berhenti. dan paling penting dari angkot sesungguhnya: siapkan uang pas yang agak ‘ngotak’ menurut lu dan supir. Lalu Transjakarta, oh good old (definitely old!) Transjakarta. Masih inget saat orang terdekat gue, yang kemungkinan terlalu sering kemana-mana dengan kendaraan pribadi, tercengang melihat gue sibuk nge-zoom peta halte Transjakarta yang gue simpen di HP. Momen-momen pengguna Transjakarta (Busway) kayak udah nunggu lama, ngeliat bus dateng dari jauh dan ternyata bukan jurusan yang lo tuju, atau gigih nanya kondektur untuk memastikan lo bakal naik bus yang bener, atau ngedumel sama pengguna sebelah lo yang capek berdiri, atau ngintipin mereka yang gadgetnya lebih keren,lebih mahal dari lo atau justru cuma mereka yang biasa aja, gelandotan di bus yang penuh, lari, lompat dari ujung halte supaya dapet tempat duduk, atau suasana ceria saat busnya ternyata kosong... YOU’RE BEING SON OF A BEACH SOMETIMES BUT I DO NOT DISLIKE YOU, TRANSJAKARTA BUSWAY! Kembali lagi, entah saat harus menjadi penumpang transportasi umum secara solo dan anonim atau rame-rame kayak anak muda melewati pubertas dan menikmati hidup yang ketawa-tiwi di tempat umum, mobilitas Jakarta itu praktis dan percayalah, it will make you laugh or get you harassed, either way, Jakarta is a fun city to try out it’s public transportation. At any time of day. It’s always an adventure. Experiences teach you a lot on how to deal with this city.

Tanpa pilihan lain selain untuk menjadi mandiri di dunia ‘luar rumah’, gue agak menikmati kesempatan itu terlalu banyak. We’ve all been through that “I’m never going to be home! I love every possible thing I can do outside with my friends!” state: The “extra social” Rebel state. Nyatanya, saat itu gue terlalu jatuh cinta sama hidup yang gue bisa miliki di luar rumah bersama teman-teman tanpa harus nunggu bajaj ditawarin atau ojek dipanggilin. Namun main-main di luar gitu aja juga ngga gratis dan tanggung jawab di rumah juga ngga bisa ditinggalin gitu aja. Jelas, gue suka keteteran. Gue menemukan “rumah” sendiri saat gue di luar dan terkadang itu salah juga. Semakin lama gue tinggal di kota itu ya gue makin sadar juga kalau semua hal indah di luar adalah..ya indah. Namun mereka sementara. Karena semua itu akan selalu berakhir di suatu tempat, yang secara konkret ada di sana, yang selalu menjadi garis finish saat semua hal indah itu terlaksanakan...di dalam rumah sendiri. Tempat di mana lo bisa makan gratis tanpa peraturan society, alamat yang lo hafal hatam beserta belok-belokan masuk gangnya, kamar mandi yang bisa bikin lo poop ngga kayak di tempat lain, rumah lo, peraturan orang rumah lo, rumah lo, kamar lo dengan barang-barang dan pakaian lo. Pakaian yang lo pakai untuk keluar, disimpan di rumah lo. Alat mandi yang selayaknya lo gunakan sebelum keluar, ada di rumah lo. Dan kasur yang halal untuk lo datangi pada malam hari saat lo udah tepar dari luar, itu ada di rumah lo. Tempat paling nyaman untuk menikmati take away Nasi Goreng gerobak lo. Daerah rumah lo, sekelilingnya yang lo kenal. ada apa ajanya, titik mana jual makanan apa dan pada jam berapa aja. K u l t u r.

Jakarta, my hometown, introduced me to the beautiful and unique people and their culture that led me to the socially active person I've become. Then after a somewhat wild yet definitely fun stuffs at/with decent place and people, it’s always good to go where we came from and rest in it. Home is where you know you’re going to be safe even when you yourself is feeling insecure (on whatever reason(s) insecure).

1 comments

  1. hae esther ;)

    agak2 terakhir bacanya kenyang sama kata "lo". ndak ada masalah sih lucu aja :p

    selamat natal ngemeng2 XD
    (sama selamat tahun baru juga deh sekalian)
    salam dari cikeas. :*

    ReplyDelete